Kembali

Peyek Kacang

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, masih ada yang tetap mempertahankan kearifan lokal dan warisan budaya melalui usaha kecil dan menengah (UMKM). Salah satunya adalah produksi peyek, camilan tradisional yang terbuat dari adonan tepung beras dicampur dengan kacang tanah atau teri, kemudian digoreng hingga renyah, yang berkembang pesat di Lingkungan Cabean. Meski peyek sudah dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia, peyek produksi di Lingkungan Cabean memiliki cita rasa khas dan unik, berkat resep turun-temurun yang tetap dijaga keasliannya.

Ibu Afidatunnisa, pewaris usaha dari ibunya, Ibu Sholikah, telah melanjutkan usaha peyek yang sudah berjalan hampir 20 tahun. Awalnya, Ibu Sholikah berjualan buah di Pasar Borobudur, namun karena persaingan yang ketat, beliau memutuskan untuk beralih ke usaha peyek yang diproduksi di rumah. Hingga kini, pemasaran peyek dilakukan dengan menitipkan produk ke kios-kios di Pasar Borobudur, dan distribusi dilakukan oleh pemilik usaha atau anaknya.

Pemilihan usaha peyek ini didasari oleh kemudahan mendapatkan bahan-bahan serta keahlian yang sudah dimiliki Ibu Sholikah, yang kini mulai diwariskan kepada anaknya. Proses pembuatan peyek dimulai dengan mempersiapkan alat dan bahan, mencampurkan tepung beras dengan air, memasukkan kacang atau teri ke dalam adonan, dan kemudian digoreng. Menurut wawancara, menggoreng peyek lebih baik menggunakan tungku agar rasa peyek lebih renyah dibandingkan jika menggunakan kompor.

Produksi peyek saat ini mencapai 10 kg tepung per hari, menurun dari sebelumnya 20 kg karena dampak pandemi Covid-19 dan turunnya daya beli konsumen. Meskipun begitu, usaha peyek ini tetap bertahan dan menjadi simbol kekuatan kearifan lokal di tengah arus modernisasi.